| Reorientasi Strategi Pemasaran Perumnas di Era Otonomi Daerah |
|
|
|
| Written by admin | |||||||||
|
Case Study
Reorientasi Strategi Pemasaran PERUMNAS
di Era Otonomi Daerah
Oleh: Freddy Rangkuti
Tantangan
yang dihadapi Perum Perusahaan Umum Perumahan Nasional (Perum Perumnas) sebagai
sebuah perusahaan BUMN, tampaknya akan semakin berat. Selain perubahan faktor
eksternal karena adanya era globalisasi dan otonomi daerah, secara internal
perusahaan ini menanggung beban yang tidak ringan, karena memiliki dua misi
yang berbeda. Di satu sisi perusahaan harus mampu menyediakan rumah murah bagi
sebagian besar golongan ekonomi menengah ke bawah, sedangkan disisi yang lain
ia harus mampu menghasilkan return yang cukup baik untuk kelangsungan bisnis
ini secara professional.
Menjelang era
perdagangan bebas dimulai pada AFTA tahun 2003 dan otonomi daerah, Perumnas
tidak boleh lagi mengandalkan subsidi dari pemerintah, perusahaan harus
melakukan efisiensi dalam rangka mengurangi biaya produksi seminimal mungkin
sehingga mampu bersaing dengan pasar bebas. Apabila dilihat dari struktur
pendapatan yang diperoleh tahun 2001, yaitu sebagai berikut: Tabel 1: Struktur Pendapatan Berdasarkan Jenis Kegiatan
Sumber: Perum
Perumnas
Pendapatan
terbesar Perumnas berasal dari pembangunan rumah sangat sederhana (RSS) yaitu
sebesar 49.19% dan rumah sederhana (RS) sebesar 41.65%. Sedangkan pendapatan
lainnya berasal dari rumah susun (0.69%) dan kavling tanah murah (8.47%) dengan
total pendapatan sebesar Rp. 437 milyar. Untuk menghadapi meningkatnya
persaingan di bisnis perumahan ini, Perumnas hendaknya memikirkan ulang (reorientasi)
strategi pemasarannya dengan mencari peluang lain diluar yang biasa
dilakukannya selama ini, namun tetap berkaitan dengan core businessnya
yaitu pembangunan perumahan.
Masalah
internal Perum Perumnas lainnya yang menonjol saat ini adalah Jumlah utang yang
cukup besar. Berdasarkan sumber yang dikutip dari DC/ICN No.304, 2000, sebagian
utang – utang tersebut telah direstrukturisasi. Misalnya untuk pinjaman
komersial telah dikonversi oleh pemerintah sebesar Rp. 332.94 milyar. Jangka
waktu pinjaman 10 tahun sampai dengan tahun 2009, masa tenggang 5 tahun pertama dengan tingkat bunga 2% per
tahun. Pengembalian pokok pinjaman 5 tahun berikutnya dengan tingkat bunga 5%
per tahun. Selain itu juga terdapat pinjaman modal kerja dari pemerintah
sebesar Rp. 100 milyar dengan jangka waktu 8 tahun, masa tenggang 3 tahun
pertama dengan tingkat bunga 5% per tahun. Pengembalian pokok pinjaman 5 tahun
berikutnya dikenakan tingkat bunga sebesar 12% per tahun. Pinjaman lain berasal
dari Bapertarum sebesar Rp. 140 milyar dengan jangka waktu pengembalian selama
5 tahun. Re
Orientasi Strategi Pemasaran
Mengingat
tingkat persaingan bisnis perumahan di masa depan sudah melibatkan berbagai
varian diversifikasi produk, maka sudah selayaknya, Perum Perumnas melakukan
reorientasi strategi pemasarannya dalam bentuk lebih banyak menciptakan
diversifikasi produk yang memiliki keunggulan bersaing.
Faktor-faktor
yang harus dipertimbangkan dalam membuat reorientasi strategi pemasaran adalah
:
1.
Kebutuhan primer yaitu kebutuhan terhadap produk
itu sendiri.
Sasaran
strategi pemasaran untuk meningkatkan kebutuhan terhadap produk ini dapat
berupa :
2.
Kebutuhan selektif yaitu kebutuhan terhadap corporate
image
Sasaran
strategi pemasaran untuk meningkatkan kebutuhan terhadap corporate image
sangat penting dilakukan, karena corporate image merupakan pengenal
terhadap produk yang di tawarkan. Tujuan memperhatikan kebutuhan selektif ini
adalah untuk memperbaiki posisi persaingan suatu produk, jasa atau kegiatan
bisnis tertentu.
Upaya
yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kebutuhan terhadap corporate image
dapat berupa:
Strategi untuk
mempertahankan pelanggan yang ada adalah dengan:
(1)
Mengelola atau memelihara tingkat kepuasan konsumen.
Seperti mengiklankan kualitas produk, mengiklankan manfaat produk, merancang
ulang produk sesuai dengan keinginan dan selera konsumen, menyediakan layanan
khusus kepada konsumen (misalnya penyediaan fasilitas lingkungan yang lebih
baik, kebersihan, keamanan dan sebagainya).
(2)
Menyederhanakan proses pembelian. Seperti
melaksanakan persetujuan pembayaran melalui kredit (KPR) yang cepat, pembayaran
yang mudah, menawarkan berbagai variasi produk yang dapat dipilih secara mudah,
menjamin perlindungan terhadap kerusakan dan perbaikan produk (misalnya jaminan
perawatan selama 1 tahun dan sebagainya).
Sedangkan
strategi untuk mencari pelanggan baru dapat dilakukan dengan cara:
(1)
Mengambil posisi berhadapan langsung dengan
pesaing (head to head positioning). Misalnya dengan, mengembangkan
karakteristik khusus pada produk tersebut sehingga produk tersebut memiliki
kelebihan dibandingkan dengan produk pesaing, menurunkan harga, meningkatkan
promosi melalui bauran promosi yang efektif.
(2)
Mengambil posisi yang berbeda dengan yang
dilakukan pesaing (differentiated posisition). Misalnya dengan,
merancang dan mempromosikan manfaat tertentu yang tidak dimiliki oleh pesaing
atau tidak disediakan oleh pesaing.
(3)
menggunakan sistem pelayanan, harga yang
spesifik dan berbeda (contohnya dengan menerapkan harga secara bundling
yaitu harga ditawarkan dengan tarif khusus bagi pelanggan yang membeli dalam
jumlah besar untuk produk utama). Contoh differentiated position adalah
untuk karyawan – karyawan perusahaan serta kelompok masyarakat serta pembeli
dalam jumlah tertentu.
Kesemua faktor
tersebut di atas bertujuan untuk membuat strategi pemasaran dengan target
market yang spesifik. Strategi pemasaran yang baik tidak pernah membuat target
market untuk semua orang. Artinya, produk yang ditawarkan tersebut harus
memiliki target market tertentu yang spesifik. Upaya yang dapat dilakukan untuk
membuat strategi pemasaran kepada target market yang spesifik adalah :
(1)
Memasarkan produk kepada konsumen tertentu,
dalam pasar yang relevan, sesuai dengan kebutuhan konsumen itu sendiri.
(2)
Memusatkan target market
pada satu atau segmen pasar yang sangat terbatas atau segmen yang sempit.
(3)
Strategi harus konsisten dengan sasaran produk.
(4)
Produk yang dipasarkan
harus sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen, daya beli konsumen, serta
keuntungan yang akan diperoleh produsen sehingga dapat tetap bertahan dan
bersaing di bisnis tersebut. Perlu Analisis Persaingan
Berbagai macam cara yang disebutkan di atas, dapat
dilakukan dengan melakukan analisis terhadap pesaing dan situasi persaingan. Tanpa
mengetahui kondisi persaingan yang ada tidak mungkin perusahaan dapat
merumuskan strategi pemasaran yang tepat. Faktor-faktor yang harus diperhatikan
di dalam analisis persaingan adalah:
1.
Melakukan identifikasi siapa
saja yang terlibat dalam bisnis tersebut. Berdasarkan hasil identifikasi ini
dapat diketahui siapa pesaing utama kita (Key competitors)[1].
2.
Melakukan analisis terhadap
atribut-atribut yang dimiliki oleh pesaing utama. Kegiatan ini dapat dilakukan
dengan membuat analisis SWOT terhadap bisnis yang sedang kita lakukan di
bandingkan dengan pesaing utama[2] . Pada prinsipnya, analisis kekuatan dan kelemahan
pesaing dapat dilihat dari :
Masukan yang
diperoleh dari analisis SWOT tersebut merupakan pertimbangan yang sangat
penting dalam menyusun strategi pemasaran yang sesuai dengan perubahan persaingan
yang akan terjadi. Selanjutnya, untuk memperkecil risiko dan mengoptimalkan
sumberdaya yang dimiliki, perusahaan perlu melakukan kerjasama dengan berbagai
pihak secara strategis. Kerjasama
Bersifat Strategis (Strategic |
|||||||||
| Last Updated ( Wednesday, 29 August 2007 ) | |||||||||
| < Prev | Next > |
|---|






