|
HATI - HATI: Membandingkan Kepuasan Pelanggan Sangat Berbahaya
Oleh: Freddy
Rangkuti
Apakah seseorang yang menyukai apel dapat dibandingkan tingkat kepuasannya
dengan orang lain yang lebih suka jeruk? Pertanyaan klasik ini selalu muncul
apabila kita ingin membandingkan produk dalam kategori buah. Begitu juga,
misalnya untuk kategori sabun mandi. Pelanggan yang lebih menyukai sabun mandi
kesehatan tidak dapat dibandingkan tingkat kepuasannya dengan pelanggan yang
lebih menyukai sabun mandi kecantikan bintang film. Meskipun sabun mandi
tersebut sama – sama termasuk dalam kategori sabun mandi. Apakah penggemar
Pizza dapat dibandingkan tingkat kepuasannya dengan penggemar hamburger, donat
atau Shabu – Shabu, meskipun kesemua
makanan yang disebutkan di atas masuk dalam satu kategori restoran fast food.
Riset tentang kepuasan pelanggan lebih dari 600
perusahaan di Irlandia menunjukkan bahwa pelanggan yang memiliki tingkat
kepuasan relatif tinggi cenderung sering melakukan perpindahan merek. Hal ini
disebabkan oleh kesalahan persepsi perusahaan terhadap kepuasan pelanggan:
perusahaan menganggap kepuasan pelanggan merupakan tujuan akhir, bukan proses
untuk perbaikan internal. Akibatnya, perusahaan yang memiliki pelanggan dengan
tingkat kepuasan relatif tinggi---apalagi kemudian membandingkannya dengan
tingkat kepuasan pelanggan dari perusahaan lain---cepat merasa puas dan menjadi
lupa diri.
Pada umumnya riset kepuasan pelanggan kurang
memahami perubahan dan tingkat kepentingan yang ada dalam benak konsumen. Saat
ini, dengan semakin cepat dan mudahnya pemerolehan informasi, selera konsumen
cepat sekali berubah. Masing-masing pelanggan selalu berorientasi pada
iming-iming di luar sana.
Iming-iming ini mempengaruhi aktualisasi diri serta memerlukan pemahaman khusus
mengenai keunikan setiap pelanggan. Riset kepuasan pelanggan yang sudah menjadi
standar dan dilakukan secara periodik menjadi sangat ketinggalan zaman dan
tidak dapat bercerita banyak tentang apa yang terjadi di balik kepuasan
pelanggan. Padahal ukuran-ukuran standar yang dipakai untuk riset ini merupakan
syarat mutlak dan sangat diperlukan untuk membandingkan dengan hasil riset
terdahulu.
Ditinjau dari aspek metodologi, penggunaan skala
Likert cenderung memiliki sifat ordinal, sehingga apabila dihitung rata –
ratanya menjadi kurang bermakna. Untuk memperoleh makna yang lebih tajam,
sebaiknya skala Likert yang bersifat ordinal tersebut diubah menjadi berskala
interval, yaitu dalam desain kuesionernya responden hanya disebutkan titik
ekstrimnya saja yaitu sangat tidak puas = 1 dan sangat puas = 5. Bebaskan
responden memilih rentang yang tidak dibatasi. Metode ini juga diterapkan oleh
satisfaction survey yang dilakukan oleh Sheraton Hotels (Douglas,
2002: 312).
Aspek penting lainnya yang harus diperhatikan dalam
menggunakan analisis regresi adalah adanya masalah heteroscedastisity dan multicollinearity.
Heteroscedasticity terjadi apabila Error variance tidak bersifat konstan.
Masalah ini umumnya terdapat pada data
yang bersifat cross – sectional, karena pada data yang bersifat cross –
sectional, memiliki kecenderungan pengaruh skala (scale effect) dengan
pengaruh waktu yang berbeda – beda. Selain itu masalah heteroscedastisity juga
akan muncul apabila terdapat outliers (nilai ekstrim) (Gujarati,1995:358). Apabila terdapat masalah heteroscedastisity
dalam data, maka penggunaan model analisis regresi menjadi bias. Berdasarkan
pengujian dengan menggunakan Pearson Correlations, dengan mengambil salah satu
contoh kategori shampoo, ternyata data – data yang terdapat dalam var QSS dengan
var VSS dan var QSS dengan var PBS memiliki correlation yang sangat signifikan.
Hal ini menunjukkan bukti terdapat masalah multicollinearity pada data tersebut
di atas.
Tabel: Pearson Correlations
|
|
VSS
|
PBS
|
|
QSS
|
-0.806*
|
0.909*
|
|
VSS
|
|
-0.698
|
*
Correlation is significant at the 0.05 level (2 tailed)
Bagi para praktisi bisnis, biaya riset kepuasan
pelanggan dengan tujuan untuk perbaikan internal perusahaan memang relatif
tinggi. Tetapi biaya yang dikeluarkan ini akan lebih kecil bila dibandingkan
dengan tingginya biaya yang harus dikeluarkan bila terjadi kesalahan
pengambilan keputusan akibat kekeliruan dalam memahami selera konsumen.
Lalu apa gunanya survei mengenai kepuasan pelanggan?
Meskipun survei kepuasan pelanggan tidak dapat dibandingkan, tetapi apabila
survei ini dilakukan dalam perusahaan yang sama untuk produk atau jasa itu
sendiri, hal ini akan sangat bermanfaat yaitu untuk memperbaiki dan
meningkatkan kinerja internal produk atau perusahaan yang bersangkutan. Data
dari survei kepuasan pelanggan seperti ini dapat mendorong perusahaan untuk
memahami perilaku pelanggan sehingga dapat dijadikan bahan yang sangat penting
untuk menyusun customer relationship management.
Jadi survei kepuasan pelanggan, apabila dipakai dengan
benar, dapat menjadi alat pengambilan keputusan yang sangat penting. Karena, berdasarkan hasil riset kepuasan pelanggan, perusahaan
dapat mengetahui dengan jelas bagian-bagian mana saja yang memerlukan perbaikan
dan peningkatan. Kesemua ini memiliki tujuan untuk meningkatkan 4R kepada
pelanggannya, yaitu membangun customer relationship; menciptakan customer
retention; menghasilkan customer referrals dan mudah memperoleh customer
recovery.
Kesimpulannya adalah hasil riset kepuasan pelanggan
akan memberikan manfaat yang sangat besar apabila hasil riset ini dapat
diimplementasikan dalam perbaikan internal secara menyeluruh terhadap kualitas
produk dan jasa yang diberikan kepada pelanggan sehingga dapat memberikan nilai
yang tinggi kepada customer. Selanjutnya perbaikan internal secara menyeluruh
dan berkelanjutan ini akan dapat medorong perusahaan agar dapat melakukan satu langkah lebih maju
dalam hal inovasi pemasaran dibandingkan dengan yang dilakukan oleh pesaing.
Inovasi pemasaran akan muncul apabila produk atau jasa yang kita miliki
mengandung keunggulan yang bersifat unik (unique benefit).
Dari unique benefit ini,
kita dapat melakukan diferensiasi sehingga perusahaan dapat mencapai keuntungan
kompetitif yang berkelanjutan dan memberikan kontribusi yang sangat signifikan
terhadap peningkatan Return of Investment
(ROI) serta superior customer value (Telah dimuat di majalah SWA).
***
|